MODUL A GEO-SCIENCES AND ITS APPLICATION
INDIVIDUAL ASSIGMENT
(Part 1 assignment from Sutikno)
ANSWER AND DISSCUSS THIS QUESTIONS
- Explain why The Earth’s surface is very dynamic?
Permukaan bumi sangat dinamis akibat adanya proses geomorfologi yang
selalu terjadi di permukaan bumi, baik yang berasal dari dalam bumi (endogen)
maupun yang berasal dari luar (eksogen). Hal ini dijelaskan oleh Thornbury
(1958) dalam prinsip geomorfologi yang pertama menjelaskan bahwa proses
geomorfologi yang terjadi pada masa lalu
juga terjadi pada saat ini dan juga akan terjadi pada waktu yang akan datang
meskipun dengan intensitas yang tidak selalu sama, dengan kata lain Thornbury
menjelaskan bahwa proses geomorfologi akan selalu berlangsung di permukaan
bumi.
2. Compare and contrast internal processes with surface processes.
Proses internal disebut juga dengan proses endogen yang berperan
penting dalam pembentukan kerak bumi. Proses endogen berasal dari tenaga dalam
bumi yang meliputi intrusi magma ke dalam kerak bumi dan keluarnya magma dari
dalam bumi ke permukaan, serta proses pergerakan lempeng tektonik yang
mengakibatkan pengangkatan dan penurunan pada daerah yang berbeda (Lange, 1974).
Proses eksternal merupakan proses yang terjadi pada permukaan bumi
yang dikendalikan oleh tenaga eksogen. Proses ini cenderung membuat permukaan
bumi mengalami degradasi sehingga permukaan bumi lama kelamaan menjadi datar,
merusak pegunungan dengan proses denudasi dan mengangkut material rombakan ke
tempat yang lebih rendah (Lange, 1974).
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa proses internal membangun
permukaan bumi dan proses eksternal merusaknya. Hal ini berlangsung terus
menerus sehingga terjadi dinamika pada permukaan bumi.
3. What would Earth be like without solar heating?
Tanpa adanya pemanasan dari sinar matahari maka
tidak akan ada kehidupan di bumi. Matahari menjadi pusat dari kehidupan di tata
surya termasuk bumi ini. Semua aktifitas matahari sangat mempengaruhi aktifitas
kehidupan di bumi. Sinar matahari yang masuk di bumi sangat dibutuhkan oleh
mahluk hidup di bumi terutama sangat di butuhkan oleh sang produsen di bumi
yaitu tumbuhan untuk melakukan proses fotosintesis. Bayangkan saja, jika pemanasan
matahari tidak ada maka proses fotosintesis tidak akan terjadi dan berakibat
pada kehidupan makhluk hidup lainnya. Manusia dan hewan tidak mendapatkan bahan
makanan yang dibutuhkan dan lambat laun akan mati.
Pada saat ini aktifitas matahari sedang dalam
penurunan. Akibat dari melemahnya aktifitas matahari ini membuat aktifitas
kehidupan di bumi juga terganggu. Akibat dari penurunan aktifitas matahari ini
suhu ekstrem melanda Benua Amerika, Eropa, hingga mencapai Asia. Suhu dingin
dalam ketiga benua ini hingga mencapai minus 22 derajat celcius. Akibat
melemahnya aktifitas matahari ini kincir angin di daerah Jerman pada saat siang
menjelang sore tetesan kincir angin berubah menjadi es yang beku.Jika saja
pemanasan matahari dari matahari tidak ada sama sekali maka bumi akan beku dan
dingin.
4. Compare and contrast uniformitarianism and catastrophism; and give
the examples.
Prinsip uniformitarianisme menyatakan bahwa proses yang terjadi di
masa lampau terjadi juga pada masa sekarang dan pada masa mendatang, hanya saja
intensitasnya tidak selalu sama (Thornbury, 1958). Salah satu contoh dari
uniformitarianisme yaitu banjir yang terjadi di dataran banjir, banjir tersebut
sudah pernah menggenangi daerah tersebut pada waktu yang lalu dan akan terjadi
pada waktu yang akan datang dengan intensitas yang bervariasi.
Prinsip teori
katastropisme menyangkal teori tersebut dengan berargumen bahwa proses yang
terjadi pada masa lalu, sekarang dan masa mendatang berbeda dan beberapa
diantaranya terjadi secara tiba-tiba dan dahsyat. Misalnya pada peristiwa
erupsi gunung api, dampak dari asteroid maupun komet yang menghantam permukaan
bumi, dan longsoran sisi gunung ke dalam samudra (Huggett, 2011).
5. List the main major layer of the Earth, and which is the most
important to the dynamic condition of the Earth’s surface, and why?
Interior bumi terdiri dari beberapa lapisan antara lain kerak
bumi, mantel dan inti bumi.
Gambar Interior bumi
Kerak
bumi
Kerak bumi/crust
merupakan bagian terluar bumi. Kerak bumi paling kuat dan padat dibandingkan
lapisan lain di bawahnya (Keller, 2011). Kerak bumi dapat dibedakan menjadi dua
yaitu kerak benua (continental crust)
dan kerak samudera (oceanic crust).
Kerak samudera lebih tipis serta cepat rambat gelombang-p lebih rendah
dibanding kerak benua, akan tetapi kerak samudera memiliki kepadatan yang lebih
tinggi.
Karakteristik Kerak Samudera dan Kerak Benua
|
Kerak samudera
|
Kerak Benua
|
Rerata Ketebalan
|
7 km
|
20-70 km
|
Kecepatan rambat
gelombang-P
|
7 km/dt
|
6 km/dt
|
Kepadatan
|
3 gm/cm3
|
2,7 gm/cm3
|
Komposisi
|
basalt
|
Granit
|
Sumber : Carlson, 2011
|
Kerak bumi dan lapisan dibawahnya dibatasi oleh
sebuah batas bernama Diskontinuitas Mohorovicic atau Moho.
Mantel
Mantel merupakan zona interior bumi yang
terbesar dengan ketebalan kurang lebih 2885 km
yang sebanding dengan dua pertiga dari total massa bumi (Gabler dkk,
2009). Mantel terbagi menjadi dua bagian yaitu mantel bagian atas dan mantel
bagian bawah. Mantel bagian atas terdiri dari lapisan litosfer yang padat yang
terletak persis dibawah kerak bumi dan lapisan astenosfer yang panas, elastis
dan mudah mengalir. Gabler dkk (2009) menyebutkan energi gaya tektonik
berkekuatan besar yang menghancurkan dan mendeformasi kerak bumi berasal dari
pergerakan aliran astenosfer.
Inti
bumi
Inti bumi merupakan bagian bumi yang paling
dalam yang merupakan sepertiga bagian dari total massa bumi. Inti bumi memilki
dua bagian, yaitu inti luar cair dan inti dalam padat. Carlson
(2011) menyebutkan inti bumi memiliki komposisi besi dan nikel dan beberapa
elemen lainnya seperti oksigen, pottasium, sulfur atau silikon.
Bagian terpenting yang mengontrol dinamika
permukaan bumi yaitu bagian atenosfer yang lunak dan lembek. Magetsari dkk (nd)
menjelaskan bahwa astenosfer memiliki material yang mendekati titik leburnya
karena suhu dan tekanannya dalam keseimbangan yang baik. Akibatnya, material
mudah mengalir karena berstruktur lemah. Pergerakan lapisan ini berperan
sebagai penyebab aktivitas gunungapi dan deformasi kerak bumi.
6. What do you know about plate
tectonic theory?
Teori Tektonik Lempeng menjelaskan bahwa permukaan bumi dibentuk oleh kepingan-kepingan litosfer,
yaitu lapisan padat dari kerak bumi dan mantel bumi bagian atas, yang mengapung
di atas astenosfer. Astenosfer adalah lapisan plastis di bawah litosfer yang
memiliki sifat seperti fluid yang dapat mengalir. Menurut teori Lempeng
Tektonik, lapisan terluar bumi kita terbuat dari suatu lempengan tipis dan
keras yang masing-masing saling bergerak relatif terhadap yang lain. Gerakan
ini terjadi secara terus-menerus sejak bumi ini tercipta hingga sekarang. Teori
Lempeng Tektonik muncul sejak tahun 1960-an, dan hingga kini teori ini telah
berhasil menjelaskan berbagai peristiwa geologis, seperti gempa bumi, tsunami,
dan meletusnya gunung berapi, juga tentang bagaimana terbentuknya gunung,
benua, dan samudra.
Lempeng tektonik terbentuk oleh kerak benua (continental crust)
ataupun kerak samudra (oceanic crust), dan lapisan batuan teratas dari mantel
bumi (earth’s mantle). Kerak benua dan kerak samudra, beserta lapisan teratas
mantel ini dinamakan litosfer. Kepadatan material pada kerak samudra lebih
tinggi dibanding kepadatan pada kerak benua. Demikian pula, elemen-elemen zat
pada kerak samudra (mafik) lebih berat dibanding elemen-elemen pada kerak benua
(felsik).
Di bawah litosfer terdapat lapisan batuan cair yang dinamakan
astenosfer. Karena suhu dan tekanan di lapisan astenosfer ini sangat tinggi,
batu-batuan di lapisan ini bergerak mengalir seperti cairan (fluid). Litosfer
terpecah ke dalam beberapa lempeng tektonik yang saling bersinggungan satu
dengan lainnya. Berikut adalah nama-nama lempeng tektonik yang ada di bumi, dan
lokasinya bisa dilihat pada Peta Tektonik.
Lebih lanjut Magetsari dkk (nd)
menjelaskan bahwa gerakan lempeng tektonik selalu mengikuti gerakan pemekaran
dasar samudera (sea floor spreading)
yang kecepatannya sekitar 2-10 cm/tahun. Pergerakan tiap lempeng tektonik
menyebabkan adanya interaksi antar lempeng yang dapat dibedakan menjadi 3 tipe
yaitu divergen, konvergen dan transform.
7. According to plate tectonic theory, where are crustal rocks created?
Why does not Earth keep getting larger if rocks is continually created?
Most crustal rock is at the bottom of the oceans and are created at
"mid-ocean ridges" which are basically long linear volcanoes than
circle the globe. These rocks are more dense (heavier for their volume) than
the rocks we see on land. The crust that we see on the continents we live on is
created in a slightly different way.
Continental crust is created by volcanoes and by collisions of
tectonic plates. When plates collide, denser (heavier) material is push back
down into the Earth. (This is why the Earth doesn't get larger - it recycles
itself).
Some of the material though goes through chemical and structural
changes that makes it less dense (lighter). This material then remains at the
surface. The processes that cause this are complex and varied, but can include
volcanism and metamorphism (changing of rocks without melting them).
Sometimes, two plates with continents on them collide. The
continents are not dense enough to be push back down into the Earth, so they
"squish" together like cars in a collision forming mountain belt.
We can see that if
continental crust is not pushed back down into the Earth like oceanic crust is,
the amount of continent crust in increasing through time. This is true.
However, it is important to remember that this does not mean that the Earth is
growing. (As a previous poster mentioned, matter is not created.) It simply
means that the ratio of continental crust to oceanic crust is increasing.
8. What are hot spots, and how do they help to determine rates and
direction of plate movements?
Hot spots adalah lokasi dimana terdapat aktivitas
magma / gunungapi yang telah berlangsung dalam waktu yang sangat lama.
Pada tahun 1963, geofisikawan
Kanada, J. Tuzo Wilson yang juga menemukan teori patahan transform mengemukakan ide
cemerlang yang saat ini disebut sebagai Teori Hot Spot. Wilson mengatakan bahwa
pada beberapa tempat di bumi ini terjadi proses vulkanik yang sangat aktif, dan
berlangsung sudah sangat lama. Menurut beliau hal ini bisa terjadi jika di
bawah sebuah lempeng tektonik ada sebuah area yang relatif ‘kecil’, sudah
eksis dan bertahan lama, dan memiliki panas yang sagat tinggi- yang disebut
hotspot. Hot spot ini akan memberikan sumber energi panas lokal yang tinggi
untuk mempertahankan proses vulkanik.
Wilson berhipotesis bahwa bentuk rangkaian kepulauan Hawai yang
terletak pada garis lurus adalah sebagai hasil dari pergerakan lempeng
Pasifik di atas dari hotspot yang berada sangat dalam di mantel bumi. Lokasi
hotspot ini relatif tetap dan posisi saat ini tepat di bawah Kepulauan besar
Hawaii.
Panas dari hot Spot ini memberikan sumber magma terus-menerus yang
sebagian meleleh di atas lempeng Pasifik. Magma tersebut, yang lebih ringan
dibanding batuan padat di sekitarnya-, kemudian naik di sepanjang mantel
dan kulit bumi dan kemudian meleleh di dasar lautan dan membentuk gunung aktif
bawah laut. Seiring dengan waktu gunung bawah laut itu bertumbuh dan membesar
akibat proses erupsi yang terjadi terus-menerus, sehingga pada akhirnya timbul
di atas muka laut, dan membentuk kepulauan vulkanik.
Wilson berteori bahwa pergerakan lempeng Pasifik juga akan
menggeser pulau vulkanik yang terbentuk dari atas hotspot sehingga
menghilangkan sumber sumber magma, sehingga proses vulkanis berakhir. Ketika
sebuah pulau vulkanik sudah eksis, pulau yang lain akan tumbuh di atas hotspot,
dan siklus tersebut terjadi berulang-ulang. Proses vulkanik tumbuh dan mati ini
terjadi sepanjang jutaan tahun dan meninggalkan jejak panjang pulau-pulau
dan gunung-gunung vulkanik di dasar lautan Pasifik.
Menurut teori hotspot Wilson rangkaian vulkanik Hawai
seharusnya menua secara progressif dan menjadi lebih banyak mengalami erosi
jika rangkaian makin jauh bergeser dari hotspot akibat pergerakan lempeng
Pasifik. Pulau Kauai, pulau tidak berpenghuni yang berada di arah barat laut
sudah berumur 5.5 juta tahun dan sudah sangat banyak mengalami erosi. Sebagai
perbandingan, batuan terekspos tertua dari Kepulauan Besar Hawaii – yaitu pulau
paling tenggara dari rangkaian dan diasumsikan masih berada di atas
hotspot- diperkirakan baru berumur 700.000 tahun dan batuan vulkanis baru
masih terus terbentuk.
9. Describe how convection in the asthenosphere may drive the motion of
lithospheric plates. Alternatively, how might plate motions churn the plastic
asthenosphere?
Litosfer merupakan bagian yang padat, terdiri dari
kerak bumi dan mantel bagian atas. Permukaan bumi akan disusun oleh
pecahan-pecahan dari litosfer yang disebut sebagai lempeng. Jadi lempeng
merupakan bagian dari litosfer yang memiliki batas tertentu dan saling
berinteraksi satu sama lainnya. Sedangkan astenosfer merupakan bagian yang
bersifat plastis yang terletak di bawah litosfer dan bersifat seperti fluida
(dapat mengalir). Sampai saat ini terdapat belasan atau lebih lempeng tektonik
di bumi, baik yang besar maupun yang kecil. Semua lempeng tersebut saling
bergerak relative antara satu dengan
yang lainnya. Hal yang menyebabkan lempeng bergerak adalah karena mekanisme
arus konveksi di astenosfer akibat adanya perbedaan densitas. Arus konveksi
tersebut menggerakkan lempeng atau litosfer diatasnya seperti sabuk konveyor.
Dari pengamatan seismic dan metode geofisika
lainnya serta percobaan laboratorium, para ahli umumnya setuju dengan Hery
Hess, bahwa samudera merupakan hasil
pemekaran yang terjadi karena arus konveksi pada mantel, melalui punggungan
samudera (oceanic ridge). Konveksi adalah istilah fisika, yang berarti naik dan
turunnya massa fluida secara spontan karena perbedaan densitas pada dua tempat.
Pada umumnya, konveksi pada fluida menjadi sarana perpindahan panas dari satu
posisi ke posisi lainnya, sehingga dapat dinamakan konveksi termal (thermal
convection ). Ada 2 model konveksi mantel, yaitu lapisan tunggal yang
mempengaruhi seluruh mantel, dan system dua lapisan konveksi dimana mantel
bagian atas dan bagian bawah memiliki system konveksi sendiri. Batas system
konveksi pada keduanya terletak pada bidang diskontinuitas seismic pada
kedalaman 660 km. ada 3 kemungkinan konveksi mantel, yaitu pada astenosfer,
pada keseluruhan mantel dan timbul dari batas inti mantel (mantel plume)
10.
Describe the rocks cycle in
terms of plate tectonic
Lempeng tektonik merupakan sebuah siklus batuan di bumi yang terjadi
dalam skala waktu geologi. Siklus batuan tersebut terjadi dari pergerakan
lempeng bumi yang bersifat dinamis.
Siklus Batuan dalam hal Lempeng Tektonik :
·
Magma terbentuk dengan
pelelehan batuan di atas zona subduksi
·
Magma yang kepadatannya kurang,
naik ke permukaan dan mendingin untukmembentuk batuan beku
·
Batuan beku yang tidak
terlindungi di permukaan akan lapuk menjadi sedimen
·
Sedimen berpindah ke daerah
rendah, terkubur dan mengeras menjadi batuan sedimen
·
Batuan sedimen dipanaskan dan
terhimpit ke dalam untuk membentuk batuan metamorf
·
Batuan
metamorf dapat memanas dan mencair di kedalaman untuk membentuk magma
Siklus batuan tersebut terjadi dari pergerakan lempeng bumi yang
bersifat dinamis. Dengan pergerakan lempeng tektonik yang terjadi mampu
membentuk muka bumi serta menimbulkan gejala-gejala atau kejadian-kejadian alam seperti gempa tektonik, letusan
gunung api, dan tsunami. Pergerakan lempeng tektonik di bumi digolongkan dalam
tiga macam batas pergerakan lempeng, yaitu konvergen, divergen, dan transform
(pergeseran).
11.
What is the impact of plate
motion to the geological structure and volcano distribution?
Dampak dari gerakan lempeng terhadap struktur
geologi adalah :
Pergerakan lempeng saling mendekati akan
menyebabkan tumbukan dimana salah satu dari lempeng akan menunjam ke bawah yang
lain. Daerah penunjaman membentuk suatu palung yang dalam, yang biasanya
merupakan jalur gempa bumi yang kuat. Dibelakang jalur penunjaman akan
terbentuk rangkaian kegiatan magmatik dan gunungapi serta berbagai cekungan
pengendapan. Salah satu contohnya terjadi di Indonesia, pertemuan antara
lempeng Ind0-Australia dan Lempeng Eurasia menghasilkan jalur penunjaman di
selatan Pulau Jawa dan jalur gunungapi Sumatera, Jawa dan Nusatenggara dan
berbagai cekungan seperti Cekungan Sumatera Utara, Sumatera Tengah, Sumatera
Selatan dan Cekungan Jawa Utara.
Dampak dari gerakan lempeng terhadap distribusi
gunung api :
Lempeng bergerak satu sama lain dan juga menembus
ke arah konveksi mantel. Bagian alas litosfir melengser di atas zona lemah
bagian atas mantel, yang disebut juga astenosfir. Bagian lemah astenosfir
terjadi pada saat atau dekat suhu dimana mulai terjadi pelelehan, kosekuensinya
beberapa bagian astenosfir melebur, walaupun sebagian besar masih padat. Kerak
benua mempunyai tebal lk. 35 km, berdensiti rendah dan berumur 1,2 miliar
tahun, sedangkan kerak samudera lebih tipis (lk. 7 km), lebih padat dan berumur
tidak lebih dari 200 juta tahun. Kerak benua posisinya lebih di atas dari pada
kerak samudera karena perbedaan berat jenis, dan keduanya mengapung di atas
astenosfir.
Pergerakan antar lempeng ini menimbulkan empat
busur gunungapi berbeda :
a.
Pemekaran
kerak benua, lempeng bergerak saling menjauh sehingga memberikan kesempatan
magma bergerak ke permukaan, kemudian membentuk busur gunungapi tengah
samudera. Contoh pembentukan gunungapi di Pematang Tengah Samudera di Lautan
Pasifik dan Benua Afrika.
b.
Tumbukan
antar kerak, dimana kerak samudera menunjam di bawah kerak benua. Akibat
gesekan antar kerak tersebut terjadi peleburan batuan dan lelehan batuan ini
bergerak ke permukaan melalui rekahan kemudian membentuk busur gunungapi di
tepi benua.
c.
Kerak benua
menjauh satu sama lain secara horizontal, sehingga menimbulkan rekahan atau
patahan. Patahan atau rekahan tersebut menjadi jalan ke permukaan lelehan
batuan atau magma sehingga membentuk busur gunungapi tengah benua atau banjir
lava sepanjang rekahan.
d.
Penipisan
kerak samudera akibat pergerakan lempeng memberikan kesempatan bagi magma
menerobos ke dasar samudera, terobosan magma ini merupakan banjir lava yang
membentuk deretan gunungapi perisai.
12.
What is the relationship
between geological condition and geomorphological condition?
Hubungan antara kondisi geologi dan kondisi geomorfologi sangat erat.
Thornbury (1958) menjelaskan bahwa struktur geologi merupakan faktor pengontrol
evolusi bentuklahan yang paling dominan dan struktur geologi tersebut tercermin
pada bentuklahan tersebut. Secara lebih lanjut dijelaskan bahwa terdapat
beberapa hal yang menyebabkan terjadinya variasi struktur geologi antaralain
perbedaan jenis batuan, perbedaan usia batuan serta perbedaan stratigrafi
batuan. Batuan yang memiliki jenis yang berbeda tentu saja memiliki perbedaan
sifat fisik dan kimia. Oleh karena itu tingkat resistensinya terhadap proses
geomorfologi juga terdapat perbedaan baik yang disebabkan oleh tenaga eksogen
seperti pelapukan maupun yang disebabkan oleh tenaga endogen seperti deformasi batuan. Perbedaan umur batuan juga mempengaruhi
tingkat resistensinya. Batuan yang lebih dulu terbentuk atau berusia lebih tua
telah mengalami proses pelemahan lebih dulu dibanding batuan yang berusia muda
sehingga resistensinya berkurang. Perbedaan stratigrafi batuan turut
menyebabkan perbedaan kondisi geomorfologi. Batuan yang cenderung tidak
resisten ketika berada di permukaan akan mengalami proses pelapukan sehingga
segera lapuk, berbeda halnya jika batuan yang sama terlapisi oleh batuan
lainnya yang cenderung lebih resisten sehingga batuan terlundungi dari proses
pelapukan.
Bentuklahan yang terbentuk dari batuan yang resisten akan cenderung
memiliki elevasi tinggi dan berlereng curam atau memiliki lereng-lereng yang
bentuknya meruncing, sebaliknya batuan yang kurang resisten menyebabkan
bentuklahan yang terbentuk memiliki elevasi cenderung lebih rendah, lereng
cenderung landai-datar dan bentuk lereng cenderung membulat.
13.
What is the important role of
the geology and geomorphology to determine the
hazard and disaster susceptibility?
Geologi sangat berperan penting dalam menentukan
bahaya dan kerentanan bencana. Peta geologi telah dimanfaatkan oleh berbagai
instansi pemerintah maupun swasta untuk keperluan perencanaan, pemantauan,
hingga evaluasi hasil-hasil pembangunan. Juga menyajikan informasi sangat
berguna bagi pengelola dan pengambil keputusan untuk membantu memecahkan
permasalahan, menentukan pilihan atau membuat kebijakan tata ruang melalui
metode analisis data peta. Bencana geologi berupa tanah longsor sebenarnya
dapat diantisipasi Pemerintah Daerah bila memiliki data geologi yang
menunjukkan potensi longsor, dengan menandai titik-titik potensi bahaya geologi
dan menginformasikan kepada warga masyarakat di kawasan berisiko tinggi. Peta
geologi di Indonesia umumnya baru dimanfaatkan oleh beberapa Kementerian dan
Lembaga di tingkat pusat dan baru dirintis di tingkat daerah. Kementerian yang
paling banyak memanfaatkan peta geologi adalah Kementerian ESDM, Kementerian
Kehutanan, Pertanian dan Kementerian Pekerjaan Umum. Kementerian lainnya dan
lembaga-lembaga struktural lainnya. Daerah-daerah pada umumnya belum banyak
menggunakan peta geologi, karena para penyelenggara pemerintahan belum banyak
tahu tentang pentingnya peta geologi dalam penyusunan rencana, pemantauan, dan
evaluasi pembangunan secara mudah, murah, efektif, dan akurat. Saat ini lembaga
struktural yang paling banyak membutuhkan peta geologi adalah Bappenas/Bappeda,
untuk kepentingan pembangunan nasional dan daerah.
Geomorfologi juga sangat berperan penting dalam
menentukan bahaya dan kerentanan bencana. Dalam hal analisis risiko bencana
seperti gempa bumi, banjir dan tanah longsor, geomorfologi merupakan parameter
penting yang selalu dipakai untuk mengetahui bentuk permukaan bumi dan
perubahan-perubahan yang terjadi pada bumi itu sendiri.
14.
In what ways do organism,
including human, change the Earth; what kind of Earth processes are affected by
human and other organism.
Dalam hal untuk memenuhi kebutuhan hidup, manusia
akan memanfaatkan berbagai sumber daya alam. Namun, sangat disayangkan,
terkadang manusia dalam mengambil sumber daya alam tidak memperhitungkan untung
ruginya. Bahkan sampai merusak alam untuk memenuhi kebutuhannya. Perbuatan
manusia inilah yang dapat mengubah permukaan bumi. Beberapa kegiatan manusia
yang dapat mengubah permukaan bumi adalah sebagai berikut :
a.
Pembakaran
Hutan
Pembakaran hutan pada awalnya bertujuan untuk
dijadikan lahan pertanian, permukiman penduduk, dan untuk industri. Kawasan
hutan yang dijadikan lahan pertanian biasanya berubah menjadi tanah tandus dan
gersang. Hal ini karena setelah panen biasanya ladang ini akan ditinggalkan.
Sistem perladangan seperti ini disebut perladangan berpindah. Akhirnya hutan
yang dahulu menghijau menjadi tanah tandus dan gersang, karena setelah panen
dan sudah tidak subur lagi biasanya ditinggalkan begitu saja. Karena tanahnya
tandus dan gersang maka struktur tanah menjadi rusak dan mudah mengalami erosi.
b.
Penebangan
Hutan secara Liar
Perubahan permukaan bumi juga dapat diakibatkan
adanya penebangan hutan secara liar. Penebangan hutan secara liar bertujuan untuk mengambil kayu sebagai bahan
bangunan. Penebangan hutan secara liar mengakibatkan terajdinya hutan gundul
yang berakibat terjadinya longsor, banjir, dan kesulitan air bersih. Selain
itu, penggundulan hutan juga berdampak pada kehidupan makhluk hidup.
Penggundulan hutan telah membunuh ratusan ribu spesies tumbuhan dan hewan.
Banyaknya pohon yang ditebangi menyebabkan hewan-hewan hutan kehilangan makanan
dan tempat berlindung.
c.
Penambangan
Kegiatan penambangan juga dapat mengubah permukaan
bumi. Sebagian besar bahan tambang berada di dalam tanah. Pengambilan bahan
tambang dengan cara digali atau ditambang. Ada dua macam jenis penambangan
yaitu penambangan terbuka dan penambangan bawah tanah. Penambangan terbuka
adalah penambangan yang dilakukan di permukaan bumi. Beberapa bahan tambang
seperti tembaga, besi, batu bara, kapur, dan aluminium sering ditemukan di
permukaan bumi. Oleh karena itu, untuk mengambilnya tidak perlu menggali.
Kegiatan ini mengubah bentuk permukaan bumi menjadi lubang-lubang bekas
penambangan.
Bahan tambang lainnya digali dari terowongan yang
berada ratusan meter di bawah permukaan tanah. Cara ini disebut penambangan
bawah tanah. Penambangan ini lebih sulit daripada penambangan di permukaan.
Para penambang menggali sebuah lubang menuju ke dalam tanah dan mengambil
bijih. Pengambilan bijih ini menggunakan bor atau bahan peledak sebelum
diangkut ke permukaan. Kegiatan ini menimbulkan tanah berongga. Tanah yang
berongga menyebabkan tanah kurang kuat sehingga bisa runtuh.
15.
What kinds of data are needed
to determine spatial distribution of the hazard susceptibility of landslide,
earthquake, volcanic eruption and tsunami; and explain how to obtain the data?
Data yang dibutuhkan untuk menentukan distribusi
spasial kerentanan bahaya tanah longsor, gempa bumi, letusan gunung berapi dan
tsunami :
a.
Tanah
Longsor
Tanah longsor
merupakan gerakan batuan dan tanah menuruni lereng sepanjang permukaan bidang
gelincirnya (Smith, 1996). Menurut Hardiyatmo (2006) beberapa penyebab
longsoran antara lain kondisi
geologi, kondisi hidrologi, topografi, iklim dan perubahan cuaca. Untuk
mengetahui bahaya tanah longsor di suatu daerah dapat digunakan data-data
tersebut.
Kondisi geologi suatu daerah dapat diperoleh dari peta
geologi, citra satelit, foto udara maupun survey lapangan. Kondisi hidrologi
dapat diperoleh dari peta topografi/rupa bumi indonesia, citra satelit atau
foto udara dan survey lapangan. Data topografi dapat diperoleh dari peta topografi/peta
rupa bumi indonesia, data DEM (Digital
elevation model) ataupun pengukuran lapangan. Tjasyono (2004) menyebutkan
unsur dari iklim antara lain berupa suhu, kelembaban, tekanan udara dan angin. Data-data
tersebut dapat diperoleh dari catatan stasiun meteorologi.
b.
Gempa
Bumi
Data yang dibutuhkan untuk menentukan
distribusi spasial kerentanan bahaya gempa bumi diantaranya:
·
DEM
(Digital Elevation Model), menggunakan DEM dari SRTM (Shuttle Radar Topographic
Mission) yang memiliki resolusi 90 m.
·
Seismistas,
berupa lokasi-lokasi gempa yang terjadi dari NEIC USGS.
·
Batas
Lempeng Tektonik sebagai
pendukung
·
Batrimetri
sebagai
pendukung
c.
Letusan
Gunung Api
Data yang dibutuhkan untuk menentukan
distribusi spasial kerentanan bahaya gempa bumi diantaranya :
·
peta
RBI,
·
citra
satelit Landsat,
·
peta
tematik, dan
·
peta
Kawsan Rawan Bencana (KRB) Gunung Berapi
d.
Tsunami
Data yang dibutuhkan untuk menentukan
distribusi spasial kerentanan bahaya Tsunami diantaranya
:
·
DEM
(Digital Elevation Model), menggunakan DEM dari SRTM (Shuttle Radar Topographic
Mission) yang memiliki resolusi 90 m
·
Peta
tektonik
·
Batimetri
·
Seismistas,
berupa lokasi-lokasi gempa yang terjadi dari
NEIC USGS.
·
Historis
kejadian Tsunami dari tahun
Sumber Pustaka :
Asdak, Chay. 2007. Hidrologi dan
Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Yogyakarta : Gadjahmada University Press
Carlson, Diane H. 2011. Physical
Geology : Earth Revealed. Ninth edition. New York : Mc Graw Hill
Gabler, Robert E et all. 2009. Physical
Geography. Ninth edition. California : Brooks/Cole cengage learning
Hugget, Richard John. 2011. Fundamentals
of Geomorphology. Third edition.
London: Routledge Taylor and Francis Group
Keller, Edward A. 2011. Environmental
Geology. Ninth edition. New Jersey : Pearson Prentice Hall
Lange, O et all. 1974. General
Geology. Moscow : Foreign Languages Publishing House
Magetsari, Noer Aziz dkk. Nd. Catatan
Kuliah Geologi Fisik. Bandung : Penerbit ITB
Panizza, Mario. 1996. Environmental
Geomorphology. Amsterdam : Elsevier Science
Seyhan, Ersin. 1990. Dasar-Dasar
Hidrologi. Yogyakarta : Gadjahmada University Press
Suparmoko. 1997. Ekonomi
Sumberdaya Alam dan Lingkungan. Edisi 3. Yogyakarta : BPFE
Thornbury, William D. 1958. Principles
Of Geomorphology. Fourth edition. New York: John Wiley & Sons, Inc.
Kiger, Martha
and Jane Russell. 1996. This Dinamic
Earth : The Story of Plate Tectonics. Wasingthon, DC : USGS.
No comments:
Post a Comment